26 Agustus 2022

Budi Daya Kopi Karo

Budi Daya Kopi Karo
Wakil Bupati Karo Panen Kopi 

Budi daya kopi sudah lama di lakukan masyarakat Karo, dengan Brand kopi karo. Budi daya kopi karo berjenis Arabika, Dilansir dari Karokab.go.id  wilayah Kabupaten Karo berada di  ketinggian 200-1500 m diatas permukaan laut, curah hujan 17-348 mm, iklim  suhu udara berkisar antara 15,6ºC sampai dengan 23,0ºC dengan kelembaban udara rata-rata setinggi 89,12 persen pertahun. Secara umum, tanaman kopi  dapat tumbuh subur pada ketinggian 500 - 2000 m dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 21-24,0ºC dan menghendaki curah hujan 2000 - 3000 mm, dan menginginkan struktur tanah yang baik dengan kandungan bahan organik 3% serta Ph 5,5 - 6,5.  

Jenis Luas Lahan dan Produksi Kopi Karo

Sejak pra kolonial masyarakat Karo sudah mengenal kopi, yang mereka sebut dengan nama Kahowa. Secara etimologi kopi berasal dari bahasa arab yakni qahwah. Istilah ini kemudian diserap oleh Melayu menjadi Kawa  yang kemudian diserap oleh Karo menjadi  kahowa. Kahowa adalah jenis Arabica. Sejak era kolonial, kopi yang dibudidayakan adalah kopi berjenis Robusta yang diperkenalkan Belanda. 

Roasting Kopi Karo
Kopi Karo Setelah Roasting
Ini dilakukan karena era tersebut kopi di Sumatera Timur terkena penyakit karat daun. Saat ini jenis kopi yang banyak di budidayakan di Kabupaten Karo adalah jenis Arabica. Walaupun sebenarnya kopi robusta juga masih ada di budidayakan petani. Hampir disetiap kecamatan di Kabupaten Karo merupakan penghasil kopi. Walau demikian penghasil kopi karo terbesar adalah Kecamatan Merek dengan luas lahan 1500 ha. Data yang dikeluarkan oleh BPS Kabupaten Karo, saat ini tercatat 5045 ha lahan Kopi Karo, dengan jumlah produksi per tahun10.837,85 ton .

Proses Pasca Panen

Kopi Karo secara umum menggunakan metode pasca panen semi basah. Ciri-ciri buah buah kopi siap panen adalah merah sempurna. Setelah di panen, masyarakat disana biasanya memilah kopi yang berkualitas bagus dan buruk dengan cara  merendamnya beberapa saat di dalam air. Setelahnya barulah di lakukan pengupasan kulit luar. Kemudian kopi yang sudah dikupas kulit luarnya di fementasi /direndam selama satu atau dua malam. Esoknya barulah kopi di bilas dan di jemur kurang lebih sekitar 2 jam, itulah yang kemudian dijual ke pengepul atau agen.

Sangrai 

Walau daerah penghasil kopi, masyarakat disana jarang atau hampir tidak mengenal yang namanya sangrai atau roasting. Kopi yang di konsumsi masyarakat bukanlah kopi yang mereka hasilkan. Kebanyakan kopi yang di konsumsi di warung warung kopi tradisional adalah kopi berjenis Robusta dari Sidikalang, yang dibeli di pasar.
Belakangan setelah banyak berdiri warung-warung kopi premium barulah masyarakat sudah ada yang mulai mengkonsumsi kopi lokal.  

0 komentar:

Posting Komentar